TERTIDUR SAAT MENDENGARKAN KHOTBAH?

Sholat Jumat biasanya diadakan sekitar pukul 12 siang. Jam-jam segitu biasanya badan butuh beristirahat sejenak dari seluruh aktivitas mulai pagi, terutama para pekerja kantoran, petani, kuli bangunan, sales keliling, dan lain-lain. Selain tubuh perlu istirahat juga, perut juga sudah layak diisi agar tidak kelaparan saat melanjutkan bekerja. Nah, apa jadinya kalau disaat badan yang seharusnya rehat tetapi bagi kaum muslim khususnya lelaki diwajibkan sholat Jumat dan mendengarkan khotbah? Ingat! Sholat wajib jika tidak dikerjakan hukumnya adalah dosa besar. Jadi, suka tidak suka, seorang lelaki harus Jumatan.

Yang saya alami di masjid kampung saya (mungkin juga dialami di tempat lain) mayoritas jamaah yang hadir tertidur saat mendengar khotbah. Dosakah? Tidak Sah-kah sholat Jumatnya? Tidak berdosa dan tetap sah. Tapi, sangat rugi. Karena khotbah Jumat adalah rangkaian dari ibadah sholat Jumat. Rugi tidak mendengarkan nasehat-nasehat yang bagus dari khotib.

Ilustrasi dari @realmasjid.comics

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, mengapa banyak jamaah yang tertidur saat mendengarkan khotbah. Pertama, suara khotib yang (kebanyakan) cenderung lembut dan mendayu. Sehingga semakin menina-bobokkan jamaah yang datang sudah dalam keadaan lelah. Padahal, Rosulullah Muhammad S.A.W. jika sedang berkhotbah disampaikan dengan semangat. Hingga mata beliau memerah. Dengan khotib menyampaikan materi khotbah bersuara keras, kecil kemungkinan jamaah akan tertidur. Dan yang tak kalah penting adalah durasi. Rosulullah dalam menyampaikan khotbah lebih pendek dari durasi memimpin sholat Jumat. Bacaan surat yang dianjurkan saat sholat Jumat adalah surat Al-A’la dan Al-Ghoshioyah. Jika dihitung, paling lama adalah 15 menit. Jadi seharusnya khotbah Jumat kurang lebih sekitar 10 menit. Atau 15 menit sudah termasuk dengan doa-doa. Namun, para khotib di kampung saya cenderungnya berkhotbah 20 hingga 30 menit. Dengan materi yang tidak terkontrol. Misalnya materi 7 cara menjadi muslim yang cerdas. Jika ke tujuh-tujuhnya disampaikan berikut penjabarannya, sudah dipastikan lebih dari 20 menit. Terkadang khotib sebelumnya tidak mempersiapkan materi khotbah dengan baik. Membaca dulu misalnya. Sehingga bisa dipilah mana yang seharusnya disampaikan, mana yang tidak. Seringnya, khotib yang bertugas langsung membaca buku panduan khotbah saat itu juga.

Perhatikan lagi : suara lembut, durasi terlalu lama, dan materi yang disampaikan membosankan. Jika banyak jamaah tertidur, berarti esensi khotbah untuk menyampaikan nasehat dan petuah, tidak tercapai. Dan celakanya, pola seperti ternyata berulang di masjid saya. Mungkin juga terjadi dimasjid lain.

Suatu ketika, takmir masjid saya mengundang ustadz dari luar kampung. Khotbah disampaikan nggak sampai 15 menit sudah termasuk doa. Kelar sholat, beberapa jamaah berkomentar, wah bagus ya khotbahnya. Suaranya jelas dan tegas. Sayang cuma sebentar. Lalu jamaah yang lain bilang, baru kali ini aku Jumatan nggak tidur. Dan lain sebagainya. Itu juga terjadi saat sholat iedul Adha. Untuk pertama kalinya  masjid di kampung saya mengundang khotib dari luar kampung. Jamaah ibu-ibu berkomentar sama. Akhirnya takmir berinisiatip, untuk mengundang ustadz tersebut agar memberi pelatihan khotib sholat Jumat. Kurang lebih 6 kali pertemuan. Dan dihadiri oleh 6 pemuda di kampung saya dan 4 kampungtetangga. 2 bulan kemudian, takmir mengumumkan jadwal khotib yang baru. Alhamdulillah, untuk saat ini Jumatan sudah menjadi hal yang menyenangkan. Tidak banyak lagi jamah yang tertidur. Karena bagaimana mau tidur, baru sebentar sudah iqomah. Bagaimana mau tidur, suara khotib sudah lantang dan materi khotbah sudah diatur agar menyenangkan. Karena dalam pelatihan khotib tadi, juga diajarkan membuat materi yang menarik. Walau tema hampir selalu sama dan sering diulang, peserta diwajibkan untuk memperluas wawasan dari buku dan internet.

Faktor pendukung lainnya adalah tata suara atau sound system. Apalah artinya khotib bersuara lantang, tapi kondisi tata suaranya tidakmendukung? Tidak terdengar jelas ketelinga jamaah terutama yangduduk bagian belakang masjid? Untuk itu, takmir masjid segera membeli perlatan tata suara yang lebih bagus dari sebelumnya.

Saya pernah mengikuti pelatihan khotib yang diadakan disebuah masjid besar. Mulai dari jam 9 pagi hingga sore. Dengan peserta sekitar 300-an. Namun ketika selesai pelatihan, dampaknya kurang terasa. Karena yang diberikan hanya teori. Yang sempat praktek, hanya beberapa orang saja dikarenakan terbatasnya waktu. Berbeda dengan pelatihan di masjid saya, Selain diberikan terori, juga langsung prakatek satu persatu. Karena hanya berjumlah sekitar 10 orang, maka satu persatu bisa merasakan praktek khotbah Jika ada kekurangan, langsung diberi masukkan oleh ustadz. Mirip acara di TV pildacil. Lebih terasa efeknya. Memang, saat pelatihan di masjid besar tadi jika harus praktek satu persatu, tentu 300 peserta tidak akan mendapat giliran semua. Jadi, menurut saya yang lebih efektif adalah diadakan pelatihan khotib di tiap masjid. Hal ini juga pernah saya sampaikan ketika saya bertandang ke kantor kementrian agama Sleman. Dan alhamdulillah pelatihan seperti ini sudah disepakati. Tinggal menunggu pelaksanaannya.

@tonytrax_