Jumat, 29 September 2017, jam 15.00.

Berdasarkan jadwal yang aku terima, seharus ada kunjungan ke kampung sapi dan permainan menarik:

Namun aku memilih istirahat di homestay saja, biar saat mengikuti acara malamnya nggak kecapean. Selain itu, tentu saja akan Aku manfaatkan ngobrol dengan teman-teman blogger lainnya saat acara selesai. Tidurnya lumayan jenak hingga menjelang Maghrib.

Kelar dari masjid dusun Suko, aku segera menyusul yang lain. Segera Aku kontak di WA grup. Ternyata lokasinya bukan di Watu Gunung, lokasi tadi siang yang hanya berjarak 500 meter dari homestay. Pindah ke Indrokilo. Dan saat itu sedang acara makan-makan. Dikirim Isul blogger Semarang, foto yang sungguh menggugah selera:

 Ya Alloh, urap tahu tempe beserta ikan asin seakan melambai perutku yang dari tadi minta disuplai. Tuh makanan kesayangan semua. Apapun yang terjadi, Aku harus segera berangkat!

Cek Mr. Goog ternyata jaraknya lumayan jauh, 3 km. Dan melihat garis rute yang tidak lurus, berarti jalannya belak-belok dan nanjak. Pantang mundur sebelum perut akur! Budal!

Caranya? Order ojek online. Eh, nyahut. Tadinya mau pake ojek setempat aja. Alhamdulillah. 10 menit kemudian berangkat. Ternyata mas drivernya belum pernah ke Indrokilo. PR banget nih. Jadi perjalanan kami murni mengandalkan maps. 5 menit berlalu, Aku masih duduk di belakang mas driver sambil tangan memegang HP mantengin maps. Kendaraan mulai keluar perkampungan. Jalan mulai gelap banget. Nggak ada penerangan jalan. Nggak ada rumah penduduk satupun. Hanya jalan menanjak, dan terkadang kiri kanan ketemunya jurang yang cukup dalam. Penerangan cukup mengandalkan dari lampu motor. 

Duh, kok jadi merinding gini. Sementara mas drivernya setiap ketemu jalan bercabang selalu tanya, lurus, kiri, kanan, untuk memastikan karena sepertinya beliau juga tau Akupun lagi kebingungan. Hatiku mulai bertarung sebuah keraguan. 

BALIK – LANJUT – BALIK – LANJUT – BAL…

TES…

TES…

TES…

Tiga butir air dari langit menghampiri kaca helm. Heh, Gerimis! Ah, makin runyam urusannya.  Mau balik udah jauh. Mau lanjut, belum ketahuan kapan nyampenya. 

“Nanti kalo ada orang kita tanya dulu ya, mas!” Suaraku berusaha memecah kesunyian. 

Mas driver diam sambil ngegas motor maticnya yang mulai kepayahan karena jalan menanjak sekaligus menikung tajam. Macam suara kucing jantan yang mau berantem dengan nada kecekik.

Beberapa jalan bergelombang cukup membahayakan. Motor mulai berjalan pelan. Tiba-tiba dari arah belakang ada suara motor dengan knalpot berisik, ngebut. Hatiku agak lega. Sepertinya Aku di jalan yang benar. Apalagi ketika motor itu melintas, terlihat helmnya warna ciri ojek online. Barangkali ada yang order di daerah Indrokilo. Eh, tapi yakin ‘kan kalo yang lewat barusan orang beneran? Bukannya nganu 🙈

Tak lama kemudian barulah nampak lampu penerang jalan. Alhamdulillah. Mulai ada secercah cahaya sinar kehidupan, menerangi hidupku. Dari tadi kek kayak gini, biar nyali nggak ciut. Gerimis yang tadinya malu-malu kucing kini sudah mulai malu-malu anjing. Makin gede dan sering jatuhnya. Kami mulai panik. 

Akhirnya, sampe juga ke tempat tujuan. Terlihat mobil Pajero rapi terparkir berhimpitan. Saat selesai membayar ojek, puluhan orang keluar dari sebuah gang.

“Lho, ini ‘kan peserta Lokakarya? Wah, pada ngapain? Balik?” tanyaku bergumam. 

“Mas Tony baru datang? Ayo ikut kita aja balik ke homestay. Mumpung satu arah. Keburu hujan lho!”

Hey, tunggu sebentar.

Jadi udah capek dan gemetaran Aku menuju Indrokilo naik ojek, pas udah nyampe dan belum menyentuh nasi tumpeng yang nikmat itu, Aku harus langsung balik?

Cuma numpang nginjak tanah doang, trus balik ke homestay? Sepertinya ada yang aneh.

“Teman-teman blogger di mana, Pak?”

“Mereka sebentar lagi juga balik. Tapi ‘kan homestay mereka jauh dari punya kita?”

Aduh, benar. Masuk akal banget. Dari pada ntar repot balik ke homestay, mending aku segera bergabung dengan mereka yang ternyata adalah rombongan dari Brebes. Homestay nya searah denganku. Semua bergegas naik ke Pajero. Tetesan dari langit mulai sering debitnya.

“Ayo, jalan!”

Pajero mulai pelan bergerak. Dan air dari langit juga mulai bergerak juga. Kompak. Dan…

MAK BREESSSSS… 

15 menit kami tak bisa berkutik kecuali pasrah menerima siraman hujan dengan ikhlas. Sepanjang perjalanan teman-teman Brebes tertawa riang bercanda gurau menyambut hujan. Lebih baik begitu, dari pada menggerutu.

Sampe di homestay, untuk sementara ruang tamu menjadi ajang penjemuran. 

Tumpeng lezatpun tinggal kenangan, menyisakan perutku yang semakin keroncongan. Untung ada cemilan dari ibu pemilik homestay sebagai alat pemadam kelaparan. Untuk sementara.

Sejam kemudian setelah agak reda, aku pinjam payung ibu pemilik homestay untuk mencari makan. Ibunya sempat menawarkan untuk dibuatkan mie goreng. Aih, baik banget ya. 

Alhamdulillah, nemu Warung Ijo dekat masjid. Karena kalap, Akupun memesan 2 porsi yaitu nasi goreng dan mie goreng.

“Dibungkus, Mas?”

Perasaan udah 2x Aku bilang makan di sini, mungkin saking nggak percayanya 2 piring diembat sendirian.

Dan memang aku tidak salah pilih, rasanya sangat lezat! Jarang sekali Aku makan nasi goreng di warung sampe habis. Kecuali masakan istri 😗

Hingga pukul 23.00 hujan tak mengurangi porsinya, masih kemrucuk istiqomah. Rencana mau bertandang ke homestay para blogger buat ngobral ngobrol pun batal. Tidur aja deh.

Untuk mengobati kekecewaan semalam, Aku diajak mas Slam (nama aslinya sih Slamet. Biar keren aja 😝) jalan-jalan ke Embung (semacam danau) habis Shubuh. Jaraknya sekitar 1km. Terbayar!

Lalu lanjut ke Ngipik melihat sunrise kesiangan 😝 Kalo niat mah harusnya berangkat sebelum Shubuh. Jarak sekitar 1 km jalan bagus full nanjak. Kiri kanan dikelilingi pohon kopi.

Pas nyampe di atas, kami menikmati suasana dengan penuh kemendungan 😷

Sudah jam 06.30. Di jadwal peserta FK Deswita sedang senam pagi lalu sarapan. Lalu kami turun. Nah, saat perjalanan turun itulah tercium bau aneh. Gosong-gosong sedap. Bukan karena ada yang masak di tengah hutan, melainkan bau kanvas rem yang kepanasan dan membuat rem kurang berfungsi dengan baik. Wah, bahaya iki. Harus jalan pelan dan hati-hati. Aku jadi ingat spanduk peringatan di Umbul Sidomukti :

Yap, kami harus cari air untuk menyiram. Tapi di mana? Barangkali ada yang kebelet kencing? Terpaksa kami harus berhenti dulu. Istirahat biar mesinnya adem.

Tapi kalo cuma didiamkan nunggu sampe mesin dingin, bisa dipastikan kami ketinggalan sarapan. Jadi harus cari air.

Celingukan kiri kanan depan belakang atas dan… Hey, apa ini?

Ternyata ada air yang ngumpet 😝 Bukan iklan. Tapi kok ya kebetulan jargon mirip antara “Meredakan Panas Dalam” dan Meredakan Panas Rem” 😷

Mas Slam akhirnya merelakan minuman yang kemarin dibeli di warung untuk disiram secara cuma-cuma demi keselamatan nyawa berdua.

CEEESSSSS…..

Bunyi piringan rem yang panas diguyur. Lalu tercium aroma buah tapi gosong. Oh iya, minuman ‘kan beraroma jambu kluthuk 😬

Percayalah. Resep menyiram air itu sangat manjur. Dalam waktu yang tak lama, rem kembali berfungsi normal.

Saat tiba di Omah Kebon, senam massal udah selesai.

Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu,

S A R A P A N

Rawon sedap dari panitia

Omah Kebon ini konsepnya asyik banget. Komplek perumahan yang 70% nya adalah kebun, sisanya bangunan rumah.

Selesai sarapan, saatnya kembali ke homestay untuk istirahat dan mandi naik Pajero.

Acara terakhir ngumpul di balai desa sambil  mendengarkan penjelasan program andalan desa Lerep, PROKLIM.

Lanjut acara ramah tamah dan pamitan. Alhamdulillah, kesampaian juga makan urap dan ikan asin suguhan panitia. Siang ini pake nasi jagung. Nikmat banget.

Sebelum berpamitan, setiap wakil kelompok diberikan kesempatan menyampaikan kesan tentang desa Lerep. Hampir semuanya sepakat kalau penduduknya ramah dan desanya bersih. Lerep sudah siap menjadi desa tujuan wisata.

TAMAT!

@tonytrax_

Baca sebelumnya Gubernur Dan Penghibur

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog Pesona Kabupaten Semarang”

www.kabsemarangtourism.com