Kamis siang, 28 September 2017 baru saja nyampe Jogja dari acara di Semarang 

Malamnya dapat info kayak gini:

Hati mana yang tak tenang melihat rundown acara yang menggoda untuk didatangi. Mumpung dekat? Sikat!

Apalagi nama desa wisata Lerep  sudah cukup terkenal dikalangan travel blogger dan pas minggu lalu Aku ke Ungaran belum sempat mampir. Saatnya berangkat traveling lagi walau sebenarnya Aku nggak tau itu acara kayak apa. Setelah menemukan kontak panitia, ternyata masih bisa bergabung walau telat sehari. Dapat fasilitas penginapan dan makan gratis. Ihiiiyyy… Langsung packing!

Jumat, 29 Sepetember 2017. Dari Jogja, seperti biasa aku naik bis patas lalu turun alun-alun Ungaran. Wah, panitia rupanya sudah mempersiapkan petunjuk denah dengan baik. Ini menjadi pemandu yang ampuh tersebar hingga menuju lokasi acara:

Dari situ lanjut pake ojek online cuma 5 ribu. Dekat!

Jam 9 pagi Aku udah di titik temu yang diinfo panitia, Watu Gunung. Sebuah restoran bernuansa alam dan ada kolam renang besar. Ini juga merupakan salah satu obyek wisata andalan di Lerep.

Barulah dapat info bahwa ini adalah acara Forum Komunikasi Desa Wisata Se-Jawa Tengah. Pertemuan diadakan tiap 3 bulan dan ini adalah pertemuan ke 33. Hebat! Forumnya benar-benar hidup dan aktif. Pertemuan ke 34 direncanakan Desember di sebuah desa Brebes.

Saat Aku datang, udah banyak orang berkumpul seperti sedang menunggu sesuatu. Sekumpulan lelaki berbatik, pakaian polisi, para penari dengan make up merah hitam di wajahnya, dan juga panitia yang sibuk hilir mudik. Menurut jadwal, pagi ini akan ada acara ngobrol bersama Gubernur Jawa Tengah.  Aku melihat di ujung sana ada mobil bak terbuka yang sedang menata beberapa sepeda gunung yang baru saja dipakai. Siapa pula iseng banget genjot sepeda ke area tanjakan super tajam di sini.

Wuiihhh… Ternyata pak Gubernur yang datang ke Lerep pake sepeda. Dari Semarang? 😱 Keren! Kalo dari Semarang jarak sekitar 20 km dan jalannya selalu menanjak.

Terdengar pengumuman dari panitia, agar seluruh tamu berkumpul di pendopo, sambil menunggu pak Gubernur mandi dan ganti baju.

Aku bertemu dengan sekitar 5 orang yang kostumnya beda dengan yang lain, tampak tidak asing bagiku.

“Maaf, ini dari rombongan blogger ya?” tanyaku.

Tebakanku tepat. Lalu kami berkenalan dengan rombongan kecil yang  membawa tas ransel dan kamera SLR itu.

“Tasnya mau titip homestay aja? Nanti bisa minta antar Pajero.” Seorang blogger sepertinya tau Aku sedang kerepotan menenteng tas pakaian. Iya sih, dari tadi nenteng sana sini tas kayak mau pindah kos aja. Dan sampe sekarang belum menemukan tempat nitip tas. Eh, tunggu. PAJERO? Keren amat kendaraan antar jemput para blogger ini. Kenapa nggak dititip di Pajero aja, kan aman bisa dikunci. Belum sempat kami ngobrol lagi, sudah terdengar alunan gending jawa. Acara dimulai.

Tak lama kemudian rombongan pak Gubernur berjalan beriringan menuju pendopo, disambut dengan tari-tarian.

Listrik sempat padam dan pengeras suara mati. Untung musik gamelan menggunakan alat manual, bukan CD player. Tari dan musik, aman!

Selasai acara protokoler, lalu mulailah acara inti. Aku ikutan masuk ke pendopo. Duduk di sebelah bapak-bapak. 

CEKRIK…

CEKRIK…

TESSSS….

KLEPUUUUUSSS….

Bapak di sebelahku baru saja menyalakan rokok dan menyemburkan asap putih ke udara tanpa merasa berdosa. Santai, seperti sudah menjadi hal yang lumrah. Duh, asap adalah musuh beratku. Kalo sampai terhirup, alergiku bisa kambuh. Bisa langsung sakit dan dipastikan nggak bisa ikut acara selanjutnya. Dari pada Aku tegur, mendingan Aku yang ngalah, keluar pendopo. Cari udara yang lebih sehat. 

Para ahli hisap

Akhirnya Aku mendengarkan dari luar saja. Pak Ganjar suaranya yang berat, jelas, dan berwibawa, aku langsung menilai, beliau ini orangnya tegas.



Dari jauh Aku perhatikan gestur tubuh beliau saat berbicara, sering membuat gerakan lucu. Dan joke-joke yang sering terlontar dengan twist yang nendang, membuatku semakin yakin kalo beliau seorang pemimpin yang entertain. Menyenangkan. Ketika sesi tanya jawab dimulai, penanya pertama langsung memberondong dengan paparan yang cukup panjang. Pak Gubernur langsung memotong, “Jadi pertanyaannya apa?”

Langsung membuat penanya cengengesan, disambung gelak tawa hadirin. Iya juga sih. Cerita panjang kali lebar kali tinggi tapi nggak jelas intinya mau apa. Beliau maunya to the point. Baiklah, jika nanti beliau menyuruh peserta bertanya lagi, Aku siap mengacungkan tanganku setinggi-tingginya. Kebetulan terlintas ide tentang desa wisata.

SEEEEET….!!!

Tanganku terangkat cepat langsung menarik perhatian beliau dan mengabaikan penanya lain.

“Ya, silakan kamu mas.”

Aku berjalan menuju tengah. Sambil mengambil mic.

Setelah salam, Aku memperkenalkan diri.

“Tony siapa? Tony Darwis?” Beliau mulai iseng lagi.

“Bukan pak, Tony Pranowo!” Kataku asal njeplak. Kontan membuat pak Gubernur dan seisi pendopo ngakak. Ahaaa, aku berhasil membuat joke juga seperti beliau. Sesaat ketegangan yang dari tadi menempel padaku, langsung lenyap.

“Saya dari Jogja, tepatnya di desa Sambi. Dulu desa Sambi pernah studi banding desa wisata di Bandung. Setelah banyak belajar dan praktek, desa Sambi sukses jadi desa wisata.” Paparku singkat. 

“Ada akun sosmed?” Beliau bertanya sambil pegang HP, siap ngecek. 

“Ada pak.” Lalu aku menyebutkan akun IG. Aku juga menyebut desa Pentingsari (tetangga desa Sambi)  sebagai desa wisata yang sukses terkenal hingga manca negara.

“Wah, ini bagus banget. Dan bisa ditiru desa lain untuk bisa studi banding.” Pak Ganjar sambil menunjukkan HP ke peserta. Udah pasti nggak kelihatan sih, karena layarnya kecil hehehe… 

Tepuk tangan bergema.

“Yang kedua, seperti pak Gubernur bilang tadi, untuk membantu melejitkan sebuah nama desa wisata, perlu bantuan dari beberapa pihak untuk promosi, salah satunya teman-teman blogger. Nah ini, teman-teman saya.” Aku menunjuk ke deretan di dekatku.

Tepuk tangan menggema lagi. Lalu pak Gubernur memotong pembicaraanku.

“Mas Tony ini benar. Kawan-kawan blogger ini punya andil yang besar. Kalo perlu undang mereka ke desa kalian, biar bisa membantu promosi. Kalo perlu “diplekotho” sekalian. Jangan boleh pulang kalo belum bantu promo.”

Hadirin tertawa.

Diplekotho=dipaksa.

Lalu pak Gubernur melihat kaos saya. Yang bertuliskan:

“Ini harganya 90 ribu, pak!” Aku bercanda.

“Siap. Kirim satu ya. Saya maunya beli. Mentang-mentang Gubernur nggak boleh lalu minta. Tapi jangan 90 kemahalan, 75 aja ya?“ Pak Gubernur menawar dengan muka berharap. Hadirin terpingkal lagi. 

“Yang terakhir, saya minggu lalu baru pertama kali ke Umbul Sidomukti. Bagus banget. Banyak wahana yang menarik. Lebih bagus dari wisata di tempat saya, Tlogo Putri Kaliurang. Tapi kenapa Kaliurang pengunjungnya lebih rame?

Karena akses jalannya lebar, jalan wisata yang bisa dilalui bis besar sekelas bis telolet kekinian. Saya ingin mengusulkan, kalo bisa jalan ke arah Umbul Sidomukti diperlebar. Waktu saya lewat, jalannya cuma cukup untuk satu mobil. Atau setidaknya bis besar bisa parkir di sebuah tempat, lalu lanjut dengan kendaraan penghubung.”

“Terima kasih. Idenya mas Tony yang studi banding tadi bagus, silakan ditiru. Kalo perlu catat nomornya mas Tony biar dibantu. Sekarang. Sekarang juga dicatat. Jangan nanti-nanti. Saya maunya sekarang!” Pak Gubernur kumat tegasnya.

Lalu, mulailah beberapa orang menyerbu saya. Bak artis yang sedang dimintai tandatangan. Sabar. Satu-satu. Semua kebagian.  hihihi..

Lanjut pertanyaan dari peserta lain sambil menyodorkan brosur promosi desa.

“Nah ini contoh brosur promosi yang sudah bagus desainnya. Tapi masih ada kekurangan, belum dicantumkan akun sosmed. Bapak punya IG?

“Punya pak, tapi nggak pernah update hehehe…”

“Haiyah, kayak gitu kok minta terkenal. Nah, tugas sampeyan sekarang tiap hari upload foto minimal satu per hari. Biar desanya dikenal orang. Siap?”

Seorang ibu bertanya, “Perkenalkan nama saya Budi.”

“Oh, jadi ini yang namanya Ibu Budi? Saya penasaran dari jaman SD cuma lihat di buku pelajaran. Dari baru kali ini bisa bertemu… ” Lagi-lagi pak Ganjar ndagel. Disambut gelak tawa seisi pendopo. Dari usulan Ibu BUdi tentang pendidikan, pak Ganjar memberi usulan kalo perlu, sesekali dalam memberi pelajaran bisa di luar kelas. Bisa juga di tempat wisata desa. Sekalian promosi.

Menurut beliau, sebuah tempat wisata bisa terkenal apabila mempunyai beberapa di bawah ini:

  • Tempatnya indah
  • mudah dijangkau
  • ada sovenir dan harganya murah
  • punya keunikan, pembeda dengan daerah lain
  • sering difoto dan share ke sosmed

Pak Ganjar juga menyesalkan soal konser band internasional yang malam ini seharusnya bisa pentas di Candi Prambanan. Menurut beliau, Prambanan otomatis akan dipromokan secara gratis oleh acara itu. Namun sayangnya, ada pihak tertentu yang keberatan sehingga dalam waktu H-3 venue pindah di stadion Krisodono yang tidak mempunyai nila jual wisata.


Tanya jawab berlangsung sekitar 2,5 jam berakhir menjelang Jumatan. Selama itu pula perut saya dibuat sakit akibat mendengar “stand up comedy” Pak Gubernur dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. Aku suka sekali gaya pemimpin seperti ini. Menghibur dan banyak ilmu yang didapat. Ceplos-ceplas dan tegas!

Acara selesai lalu makan siang, di pendopo yang lain.

Menikmati lunch sambil lihat ikan, berasa makan lauknya tempe rasa gurame 😷

Lanjut Jumatan. Dan baru sadar kalo saya belum berfoto dengan Pak Gubernur. Huuuu… Tapi lumayan, setidaknya berhasil foto sama mobilnya dulu aja 😬

Dari masjid, Aku akan diantar panitia menuju homestay yang jaraknya 1 km.

“Kita tunggu di sini dulu ya, Pajeronya masih mengantar yang lain dulu.”

Ah iya, Pajero. Jadi makin penasaran. Wah, serasa jadi artis dangdut aja nih ke mana-mana diantar pake mobil seharga 500an juta. Di rumah aja paling banter pake APV atau Avanza. Itupun punya taksi online 😝

Sepuluh menit kemudian Pajero datang. Dan akupun terkesima :

PAJERO = panas njobo njero 😝 Kreatif banget panitianya!

Lalu Aku naik Pajero bersama yang lain untuk naruh tas di homestay dan siap mengikuti acara lainnya.

Naik “Pajero Semprot” nggak jauh beda sama “Pajero Sport” 😬\

 

CATATAN:

Ajang ngbrol seru yang diberi tajuk Ngopi Bareng Mas Gubernur ini, menurut saya lebih mirip kuliah. Pak Ganjar selaku dosen, sedang memberi materi kepada mahasiswanya. Lalu Mahasiswa bertanya, dosen memberikan solusinya. Materi-materi yang diberikan banyak “dagingnya” sehingga sayang kalo dilewatkan. Agar materi kuliah ini bisa dipelajari, ada baiknya pemaparan materi dan tanya jawab bisa dibuatkan catatan. Kalo dicatat saat mendengarkan pak Gubernur, bakal ketinggalan. Atau bisa juga dari rekaman video/audio, ditrasnkrip-kan. Lalu materi tersebut dibagikan ke semua peserta FK Deswita/Forum Komunikasi Desa Wisata. Agar bisa dipelajari terutama apabila ada yang tidak datang. Kadang ceplas-ceplosnya Pak Gubernur bisa jadi ide yang luar biasa. Namun akan hilang, jika tidak direkam.

Atau mungkin sudah ada ajudan Pak Gubernur yang selalu mencatat poin-poin penting di setiap acara? Lalu poin tersebut bisa sebarkan. Bagus lagi malah bisa dibukukan dengan judul misalnya CATATAN HARIAN NGOPI BERSAMA MAS GUBERNUR. Kalo belum ada tim yang menangani, barangkali bisa ngajak saya di tiap acara.. *uhuuukkkk… keselek gethuk lindri….. Hahaha….

“IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA” (Ali Bin abi Tholib)

@tonytrax_

Lanjut ke Mengejar Indrokilo

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog Pesona Kabupaten Semarang”

www.kabsemarangtourism.com