Bingung dengan judulnya?
Bukan judul film jaman dulu : Si Lunem Pelayan Seksi. Bukan pula artis Si Lunem Maya. Udah ah, plesetan udah nggak Muksin! Jadi, selamat menebak.
2011 bulan Maret, saya sedang memandang rak-rak Gramedia Bintaro, Jakarta Selatan. Saya paling senang dibagian komik. Apalagi yang tidak disegel, pasti saya baca. Lalu saya menemukan komik tentang band, yang ternyata bikinan teman saya. Ih, keren! Karyanya sudah bisa nampang di toko buku terkemuka se Indonesia. Lalu beralih ke rak best seller. Ada komiknya RD. Maaf, sengaja saya bikin inisial, agar nggak ketahuan kalo itu komiknya Raditya Dika. *duh, keceplosan

Ada persamaan antara teman saya penulis komik tadi dan RD. Sama-sama nggak bisa menggambar. Maksudnya bikin ilustrasi komik. Saya juga. Dulu waktu SD kelas 6, disuruh pak Guru menggambar Tahu, eh… malah jadinya Tempe hihi… Yang bikin saya semangat dan ingin saya tiru adalah, mereka berdua nggak bisa menggambar, tapi bisa punya karya komik. Caranya?
Lalu saya mulai berburu illustrator di FB. Satu per satu saya kirim pesan. Bersediakah engkau menjadi juru gambar untuk komikku? Ada yang menolak karena alasan sibuk, ada yang menerima lalu memberi saya tarif yang menurut saya terlalu tinggi. Dan, ada yang nggak balas pesan saya. Salah satu illustrator yang nggak balas pesan saya ini, nantinya jadi salah satu illustrator komik saya, setelah setahun kemudian.
Akhirnya ketemu beberapa illustrator dengan tarif mahasiswa. Sangat bersahabat. Alias murah. Lalu mereka minta naskah. Naskah? Naskah apa? Ternyata saya belum punya naskah. Dan saya nggak tau cara bikin naskah untuk komik. Lalu tanya sana, tanya sini. Tanya sono. Tanya sene.
Dan yang lebih penting lagi, saya masih bingung. Mau bikin komik tentang apa. Lalu, saya berangkat rekreasi lagi ke berbagai tempat. Dari toko buku satu ke toko yang lain. Saat itu di rak terdepan, banyak komik-komik bagus non muslim. Nggak ada komik muslim. Nah, disitu saya melihat peluang. Tinggal nyari judul. Ketemulah REAL MASJID. Bagaimana bisa tercipta judul itu? Silakan beli komik saya *uhuuukkk…..

5 halaman naskah saya kirim ke illustrator. 3 hari kemudian udah jadi. Seneng banget rasanya tulisan saya bisa diapresiasi dan diwujudkan dalam bentuk gambar. Saya kirim ke penerbit. Mereka suka judul dan konsepnya, karena cocok untuk momen Romadhon. Tapi nggak suka dengan ilustrasinya. Terlalu bagus untuk konsep komik strip. Kurang nakal. Twist nya nggak dapat. Pokoknya kurang nendanglah. Setelah berganti hingga 3 ilustrator. akhirnya dapat juga. Alhamdulillah dengan bantuan editor, akhirnya bisa dapat illustrator dan Real Masjid bisa terbit dipertengahan Romadhon.
Tahu nggak apa yang saya lakukan ketika buku saya di rak toko buku? Memajangnya berderet, dengan menutupi komik-komik Jepang, biar komik saya gampang dilihat lalu dibeli. Eh, tapi jangan bilang-bilang sama Conan dan Naruto ya? INI RAHASIA!
Lalu saat Romadhon 2012 terbit Real Masjid ke 2. 2013 yang ke 3. Lalu saat akan terbit yang ke 4 berjudul Muslim United, rak-rak toko buku toko besar sudah penuh dengan komik-komik islami yang bejibun. Banyak banget dan bagus-bagus. Saya masih ingat, ketika membuat proposal untuk sponsor komik yang pertama, saya tulis bahwa saya optimis komik di Indonesia akan bangkit dan banyak yang terbit. Done!

Manfaat yang saya rasakan selain royalty tentunya, adalah testimony pembeli tentang komik saya. Suka dan sangat bermanfaat. Ini yang tak ternilai. Karena akhirnya komik bisa diterima masyarakat luas. Tujuan utama bikin komik utamanya adalah untuk mengingatkan untuk diri saya sendiri, dan keluarga. Syukur-syukur bermanfaat untukorang lain. Lalu, saya mulai ketagihan menulis. Apa saja. Dan harus tentang kebaikan dan bermanfaat.
Bicaralah yang baik atau diam. Saya terapkan dalam menulis. Menulislah yang baik-baik saja, atau nggak usah menulis. Ampuh untuk meredam yang hobi menulis keluhan status di sosmed. Apalagi sampai memaki. Lebih parahnya lagi menjelek-jelekan orang lain. Awal-awal sih masih sekali dualah kelepasan, akibat terprovokasi. Insya Alloh kedepan nggak lagi. Kapok!
Ketagihan menulis, tentu ketagihan juga membaca. Efeknya jadi ketagihan belanja. Buku tentunya. Lalu bakalnya gemar berbicara. Sharing ilmu. Jadi, gara-gara tangan, mata dan mulutpun ikut kena dampak rejekinya. Mulanya saya nggak percaya, menulis bisa menghilangkan stress. Justru ketika menulis dan buntu nggak dapat ide lagi, timbul stress. Haaaaa…. Alhamdulillah kini tidak lagi. Bisa menjadi pelarian yang menyenangkan.

Tinggal sekarang, gimana caranya agar teman-teman yang punya keinginan menulis tapi nggak pernah kelar, jadi gemar menulis. Berbagai cari saya lakukan mulai dari referensi buku, mencambuli untuk bikin cerpen, hingga merekomendasikan ikutan kelas menulis. Itupun masih juga yang beralasan soal dana.
Memang benar sih, menulis itu pekerjaan tangan. Bukan mulut. Jadi dari pada mulut yang bekerja (banyak alasan) mendingan segera gerakkan tanganmu.

Makin sering menulis, makin tahu seberapa bodohnya kita. Makin ketahuan kurang ilmu. Lalu, haus dan belajar. Bisa beli buku, searching internet, atau mendatangi sumber ilmu di kajian atau seminar. Setelah nambah ilmu, bisa buat modal untuk menulis. Dan berbicara menyampaiakan hal-hal baik untuk sesama. Agar menjadi ladang pahala, kelak.
Nyata beda sekali, isi pembicaraan orang yang gemar menulis, dengan yang tidak. Penulis akan lebih berbobot. Terstruktur. Dan mudah dipahami. Semacam menambah nilai kita dimata orang lain. Mengangkat branding. Kalau sudah menjadi pembicara yang baik, tentunya juga menjadi “marketing” yang baik pula. Misalnya, jika anda seorang pendakwah atau khotib di sebuah khotbah Jumat, anda adalah marketing yang handal dalam memasarkan produk. Jama’ah akan senang dengan yang anda sampaikan. Enak didengar dan mudah dipahami.
Punya masalah, unek-unek ataupun perlu ruang curhat? Nggak usah nyari teman. Itu dulu. Jatuhnya malah bisa bergosip. Ghibah. Dan, dosa besar. Cobalah tuangkan ke tulisan. Apa saja. Lalu cari solusi sendiri. Tulis saja. Lalu simpan. 3 hari kemudian coba baca lagi. Kalau masih berupa makian dan hinaan, hapus saja. Tapi kalau merupak sebuah solusi yang baik, segera publish. Bisa dibuat sedemikan rupa sehingga orang tidak tahu bahwa yang kita tulis adalah masalah kita. Jadi, biarkan orang memanfatkan solusinya saja.
Saya baru saja membeli sebuah novel. Judul tidak terlalu menarik cover dan judulnya. Penulisnya menurut saya sih, nggak terkenal secara awam. Namun, setelah saya direkomendasikan oleh salah seroang mentor penulis, sayapun membeli. Lalu dengan mulai membacanya, saya merasakan buku ini memang bagus. Tulisannya enak. Kalau ada yang patut disayangkan, masih ada unsur sedikit pornografi. Ingat, penebar kebaikan akan mendapat royalti pahala. Penebar maksiat, walau sedikit, mendapat bonus amal dosa.
Mari kita berhitung dari sisi financial. Buku ini sudah cetakan ke 16, dalam waktu setahun.
Jika harga buku Rp. 60.000. maka kemungkinan royalti yang diterima penulisnya sekitar Rp. 5.000. Jika setiap cetakan sejumlah 5.000 eksemplar, maka :
Royalti Rp. 5.000. x 16 cetakan x 5.000 eksemplar = Rp. 400.000.000.
Iya, 400 juta!
Novel yang menurut saya minim promosi, nggak ada di media elektronik itu, biasa-biasa saja, bisa dapat duit EMPAT RATUS JUTA nggak nyampe SETAHUN?
Nah, jadi kalo diiming pake duit ratusan juta, langsung mau nulis? Manusiawi. Lalu, kejadian klasiknya adalah :
– Apa yang mau saya tulis
– Nggak ada pengalaman hidup yang bagus bisa dijual ke pembaca
– Udah sering nulis, tapi mentok ditengah jalan
– Naskah udah jadi tapi jelek
– Punya kesibukan harian jadi nggak sempat menulis
– Semelekethek ewekewek
– Blablabla… prêt…. Duth…
Mulutnya yang menangkis. Padahal, sudah pasti MENULIS adalah pekerjaan si TANGAN. Bukan si MULUT.
LHO…. TAPIIII……
*plaaakkkkk….. sreettt… sreetttt…. Sreeettttt….
Sip, mulutnya udah dilakban!
Cari komunitas menulis.
Ikuti pelatihan menulis.
Kumpullah dengan penulis.
Sekian.
Dapat salam dari Si Lunem.