KAMPOENG KOPI BANARAN

Perjalan menuju Kampoeng Kopi Banaran diantar driver ojek mobil yang nampaknya penduduk setempat, terbukti saat melewati kampung di sekitar Umbul Sidomukti, dia selalu menyapa banyak orang. Rute yang digunakan pun berbeda dari map. Katanya inijalanpintas yang tanpa macet. Namun jalannya sempit hanya cukup 1 mobil.

Mengemudi sambil terima telepon. Hmmmm….

20 menit kemudian sampai ke tempat tujuan.

Kampoeng Kopi Banaran

Aku memesan kopi yang direkomndasi. Murah banget, cuma sepuluh ribu. Biar bisa nongkrong agak lama, aku juga memesan makanan kecil. Sekalian ngecas HP yang udah 50% dan kondisi Power Bank sudah almarhum dipakai tadi siang.

Daftar menu Kampoeng Kopi Banaran

Kopi spesial dan pisang madu

Menurut info, dibelakang resto ini ada view bagus, Rawa Pening. Setelah menghabiskan makanan, akupun berjalanke belakang. Ternyata nggak ada. Hanya taman bermain anak-anak. Setelah dijelaskan pak satpam, rupanya view jaraknya 500an meter ke belakang, dekat hotel.

Hotel dengan view Rawa Pening

Nggak jadi deh. Mendingan pulang aja karena udah sore.

Untuk naikbis patas, harus berada di terminal Bawen. Menuju terminal Bawen, aku harus naik angkot 5 menit dari Kampoeng Kopi Banaran. Ternyata di terminal Bawen belum ada bis patas. Ini udah jam 17.00. dari pada bengong, aku cari oleh-oleh dulu. Harus naik angkot lagi yang ke arah Jogja sekitar 2 menit. Nggak terlalu jauh sebenarnya, apa daya aku udah cukup capek,

Toko oleh-oleh dekat jalan lingkar Bawen.

Nah, ini makanan kesukaan para vegetarian. Duh, sayang ini lagi buru-buru. Kalo nggak pasti mampir deh.

Favoritnya para vegan, seperti saya.

 

Tibalah saatnya menanti bis patas. Ketinggalan bis terakhir, bisa runyam urusan.\jika bisa patas habis:

  1. Tersedia taksi omprengan, seperti Avanza diisi 7 penumpang, perorang bayar 75 ribu
  2. Naik bis patas lewat Salatiga dan Kartasura. Jarak tempuh lebih lama. Dan tentu saja aku akan kesusahan karena bis ini berhneti terakhir di terminal Giwangan, 40 kilometer dari tempat penitipan motorku di jalan Magelang.
  3. Nginep nunggu besok pagi. Nggak ah, kan tema kali ini keluyurannya seharian. Bukan semalaman.

Cukup lama aku menunggu, akhirnya sebuah bis patas nongol dari kejauhan. Aku berdiri dan mencegat ala anak-anak OM TELOLET OM. Bis patas nggak ada tanda-tanda mengurangi kecepatannya, bahkan menancap gasnya sampai pol-polan, sambil menyalip kendaraan di depannya.

Waduh, nggak mau berhenti. Kayaknya udah penuh penumpangnya. Jam sudah 17.15. gawat juga kalo kehabisan bis.

Spanduk Om Telolet Om ketinggalan

 

Nah, akhirnya nongol lagi bis dengan tulisan besar di kaca depan KE JOGJA!

Sukses, bis berhenti. Aku memastikan dengan bertanya lagi sama kernet yang kepalanya nongil separo di pintu belakang.

“Jogja?”

“Magelang. Jogja udah habis.” Teriak kernet dengan nda buru-buru sambil member kode padaku agar segera naik.

Aku bingung. Kok cuma sampe Magelang? Ah, dipikir nanti aja deh. Yang penting masuk bis duluan. Keburu bis ini jalan lagi. Keburu nggak dapat bis lain.

Sampe di dalam bis, suasana agak aneh. Bukan seperti bis patas biasanya, walau ada AC nya. tapi kok?

Pengamen sedang beraksi

Bis patas biasanya sih nggak bakal ada pengamen yang masuk, kecuali Iwan Fals. Tapi, nggak apa-apa deh. Anggap saja pengamen itu sebagai pengganti video dangdt koplo hehehe…

Sampai di Malgelang 18.30. hari sudah gelap. Dengan menuruti terikan kernet “MAGELANG TERAKHIR!” Semua penumpang turun. Aku mencari bis jurusan Jogja. Ada satu bis ngetem dipintu keluar dengan 3 kernet berteriak menawarkan jurusan Jogja. Beberapa penumpang langsung naik. Aku mengamati bis itu dari kejauhan. Kalo dari dekat, pasti langsung disamperin kernet disuruh naik, ada jendela kaca yang bisa dbuka di tiap tempat duduk. Berarti bis non AC. Ogah. Ntar mabuk kena asap rokok. Uhukkkk….

Bis non AC

Akupun menunggu di depan pintu keluar terminal, dengan harapan jika ada bis ke Jogja yang nggak masuk ke terminal, aku bisa mencegatnya. Biasanya ada yang jurusan Purwokerto, lewat Jogja dulu.

Lebih dari 30 menit bis non AC tadi tak kunjung berangkat. Padahal penumpang yag tadi buru-buru naik, sudah kepanasan di dalam. Biasa. Nunggu penumpang penuh. Sebagian penumpang ada yang turun mencari hawa segar, ada juga yang batal naik karena nunggu kelamaan.

Ah, kenapa nggak dicoba order ojek online? Magelang ke Tempel (tempat penitipan motorku) paling 30 kiloan.

Aku coba order ojek online. Nggak bisa. Ternyata jaraknya kejauhan. Aku mulai bingung harus naik apa ya? Taksi? Wah, pasti mahal. Ini ‘kan proyek traveling pengiritan. Kecuali terpaksa sih.

Lalu lewat bis kecil dengan tulisan Magelang – Muntilan. Aha, aku punya akal. Naik ini dulu, nanti bisa nyambung lagi. Muntilan adalah nama desa sebelum Tempel.

Aku cegat bisnya. Ternyata bisnya cuek melaju. Supirnya memberi kode kepadaku bahwa bis tidak sedang mencari penumpang. Oh, mungkin mau pulang kandang.

Nah, berkat bis inilah aku punya ide,  gimana kalo order ojek online sampai Muntilan dulu, lalu nanti disambung lagi ke Tempel. Jarak tempuh yangjuah, jika dibagi 2 akan jadi terlihat dekat. Yes! Kenapa nggak dari tadi saja sih?

Buka HP.

Order.

Berhasil! Muntilan masih dalam jarak tempuh aman, Biaya Rp. 23.000.

Batere HP ku tinggal 30%. 45 menit lagi jam 20 aku harus memimpin sebuah kelas menulis online. Durasi kelas sejam kalo HP nggak dicas bisa koit. Tentu saja kelas yang berisi 29 peserta akan berantakan. Dan untuk mencari tempat ngecas selama kelas 60 menit, harus ketemu tempat makan yang ada colokan. Di mana ya?

Ojek sampe di Muntilan. Aku turun lalu bayar. Setelah pak ojek motor berpamitan, lalu aku order ojek lagi menuju Tempel.

Berhasil.

Biaya Rp. 16.000.  Langsung ada respon. Cepat banget. Ternyata?

Yang nongol masih pak ojek yang barusan aku naik dari Magelang tadi. Kalo “jodoh” memang tidak ke mana hahaha….

Sampe di tempat penitipan motor, langsung cari warung makan yang tersedia colokan. Alhamdulillah dapat. Sebelah timur jembatan Krasak ada warung bebek goreng dan mie. Juara!

TAMAT!

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog Pesona Kabupaten Semarang”

www.kabsemarangtourism.com