SARAPAN

Betapa perut ini sudahlah keroncongan.

Belum terisi semenjak berkumandangnya adzan.

Namun si tukang bubur ayam berwajah syahdu itu tak kunjung berlalu.

Telah kutunggu dari sejam yang lalu.

Sebungkus mie instan di meja telah melambai.

Seolah berteriak-teriak ingin segera dibelai.

Tidak, daku akan tetap setia menanti.

Bubur ayam yang lezat dan sudah melekat di hati.

Mentari bergerak terang dan memancar.

Dan perutku semakin nyaring bergetar.

Duhai tukang bubur, segeralah kau muncul.

Tak pahamkah kalau aku tersiksa bagai pecah bisul?

TING… TING…

TING… TING…

Ahaaaa…. Itu suara yang tak asing.

Pasti bunyi sendok beradu dengan piring.

TING… TING…

CIIIIIITTTT… .

BRAAAKKKK…

Terdengar lolongan kesakitan.

Pun aku makin kelaparan.

Sekian.

 

BERGEGAS

Aku mau bubur ayam!

Kudengar suara dari balik pintu yang kelam

Aku sudah paham

Ini berarti Aku harus beranjak tak tinggal diam

Motor sudah Aku keluarkan

Lalu mesin kunyalakan

Suara knalpot bising mulai bertebaran

Layaknya raungan perkelahian kucing jantan

Bah! Di mana harus kucari tukang bubur itu?

Kota yang penuh kemacetan selalu bikin pilu

Seluruh pelosok sudut  sudah ku jelajah

Namun tak kunjung jumpa jua hingga ku lelah

TING… TING…

TING…  TING…

Hey, bukankah itu yang aku cari?

Meski dari jauh aku bisa menandai

Hati riang tak terperi

Kupacu kendaraan dengan kecepatan tinggi

TING… TING…

CIIIIIITTTT…

BRAAAAAKKK

MENUNGGU

Betul! Pekerjaan yang membosankan adalah menunggu.

Satu jam berlalu

Namun tak kunjung nongol juga wajahmu

Kau buat aku kesal dan pilu

Keringat mulai muncul dari pori-pori

Seiring munculnya sang mentari

Padahal, baru saja aku mandi

Kini pakaian yang tadinya parlente jadi tak rapi

Kutengok jam berulang-ulang

Waktu tetap beranjak menantang

Tak bisa kucegah malahan siap berdentang

Tetapi batang hidung yang kutunggu tak kunjung datang

TING… TING…

TING… TING…

Suara apakah itu?

Tiba-tiba saja cukup mengganggu

Entah kenapa aku ingin segera tahu

Tak kelihatan datang dari gang buntu

Dari arah yang lain

Muncul pengemudi berkecepatan bukan main

Napasku tersengal melihat kejadian yang akan terjadi

Kututup mata saja dari pada ngeri

TING… TING…

CIIIIIITTTT…

BRAAAKKKK…

MENYEBERANG

Aku, paling takut menyeberang. Dibandingkan saudaraku yang lain, Aku paling penakut. Aku trauma ketika dengan mata kepalaku sendiri, melihat bapakku mati tergilas truk. Mati seketika. Darah menyemburat segala arah. Dan supir truk dengan santai tetap melaju dengan kencang.

Salahku juga. Karena saat itu aku sedang menyeberang pelan-pelan. Tanpa lihat kiri dan kanan. Ternyata dari kejauhan sebuah truk besar berkecepatan tinggi menuju ke arahku. Bapak yang saat itu sedang asyik makan tulang, kontan berlari ke arahku. Digigitnya leherku sambil secepat kilat kepalanya mengayun keras agar agar aku terlempar jauh. Malang. Aku selamat. Bapakku tidak.

Kini, aku akan menyeberang demi mengambil ikan di seberang jalan. Aku lapar. Aku kejar.

 

TING… TING… TING..

 

Ah, tukang bubur sialan itu telah duluan melindas ikanku. Aku tetap berlari. Tanpa peduli sebuah motor ngebut, menghindar agar tak menabrak ekorku

 

TING… TING…

CIIIIIITTTT… BRAAAKKKK…

 
 
SELESAI!