Saya, bukanlah penyuka novel dengan ketebalan yang setara dengan kamus. Bukan pula penggemar tulisan Tere Liye sejak lama. Setiap datang ke toko buku, mata selalu dicekoki tumpukan novel Tere Liye. Apa sih hebatnya seorang pengarang cewek Tere Liye, kok bukunya bisa banyak banget judulnya? Itu kesalahan saya yang pertama. Karena Tere Liye adalah C.O.W.O.K.
Lalu yang kedua adalah, dengan produktifnya sang penulis membuat banyak judul dan juga terteranya dalam credit tittle bahwa telah berulang kali dicetak, sudah membuktikan bahwa bukunya sudah pasti bagus bin laku. Tapi saya dari dulu tidak membelinya. Namun, akhirnya saya putuskan HARUS MEMBELI. Minimal satu. Dan terpilihlah : HAFALAN SHALAT DELISA. Kenapa itu yang saya pilih? Setelah melalui penyeleksian dengan menjajarkan beberapa buku Tere Liye, buku tersebutlah yang paling tipis. Hingga akhirnya muncul PULANG dengan cover yang paling keren diantara sebelumnya. Cover ala tiga dimensi itu sangat mencuri perhatian saya. Tentu saya berusaha menghancurkan ego “anti baca buku tebal” saya agar bisa bertahan membaca sepanjang 400 halaman. Prestasi membaca saya, paling banter hanya 150 – 200an halaman. Dan ternyata, khusus untuk PULANG hanya dalam waktu 4 jam saya lahap mentah-mentah. Lembar demi lembar PULANG selalu membikin penasaran. Dan teramat sayang jika dihentikan.
Baru baca 10 halaman pertama, mataku jadi kalap tak terhentikan. Haus semakin rakus. Susunan kata dan cerita yang ampuh, telah membiusku bertubi-tubi. Melawan babi hutan ukuran ABG hingga harus berjibaku dengan yang ukuran 500 kilogram, membuat darahku ikutan panas ingin membantu bertarung juga. Minimal melesakkan sebuah peluru atau tombak ke kerongkongan Si Monster. Membayangkan perpisahan Bujang dengan Samad dan Midah dengan suasana kampung yang jauh dari peradaban, untuk menuntut kehidupan yang lebih legam bersama Tauke.
Awalnya, lompatan cerita adalah masalah yang membingungkan. Namun menjadi semakin hangat, tatkala mulai bisa memahami dan menyentuh masalah Shadow Economy dan sukses menggertak calon presiden dengan kemeja putih yang lengan bajunya selalu digulung. Nomer dua ya? Cerdas. Nggak perlu menyebut merk. Nggak perlu berujar nama. Demi keamanan. Namun tetap terjaga kondisi tegang membacanya.
Sederet peristiwa dengan menyebut Edwin dan hadiah buat Master Dragon, langsung membuyarkan image Bujang yang selalu kakinya bau pematang sawah dan lusuh. Berubah total. Menjelma jadi penyelesai benang rumit tingkat tinggi. Gigih berlatih dan disiplin tiap menerima ilmu baru, membuahkan hasil mujarab dalam menaklukkan gedung Lisabon Makau. Serta tertatih dalam menghadapi pengkhianat yang tak terduga. Rentetan detil laga aksi dan peperangan kecil juga merupakan keunggulan buku ini. Sekeras baja hati Bujang, tetaplah luntur tatkala 3 orang tercintanya berada dalam beda dunia.
Segala tanya, terfakta dengan bukti yang tidak perlu mengernyitkan dahi dalam memahami. Menyenangkan dalam menyelami hingga ujung lembar. Akhir cerita yang tak tuntas, menyiratkan adanya susulan buku PULANG. Mungkin saja PERGI atau KANDANG. Atau entah apa saja. Parahnya, setelah menuntaskan akhir halaman, berhari-hari kemudian nggak berminat membaca novel lain yang sudah terlanjur terbeli dan siap baca. Euphoria!
Dua kata untuk buku ini : HARUS DIFILMKAN!
Dua kata untuk Tere Liye : AKU BANGKRUT!
*lalu terkuras memburu tere liye-tere liye yang lain

Tony Hernanto
IG : @tonytrax_
Twitter : @tonytrax
FB : Tony Trax Hernanto
Tonytrax.wordpress.com
0811.297.115
IMG-20151219-WA0036
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 hal; 13.5×20.5 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2015
Harga : Rp. 59.000