Problematika standar dalam menulis adalah, ketika dalam menuliskan 3 hurup langsung macet. 3 kata itu adalah :

PADA

SUATU

HARI.

Macet total nggak bergerak. Atau sudah sampai bab ketiga, novelnya buntu ide. Yang lebih parah adalah, ingin punya buku cerita tentang kesuksesan dirinya, namun nggak tahu harus mulai darimana. Kalau kamu uangnya lebih, gampang saja. Bayar jasa co-writer, beres urusan.
3 bulan yang lalu saya sempat mengalami apa yang disebut writer block atau white paper syndrome. Berjam-jam duduk depan laptop siap mengetik, tapi “mejen”. Ibarat menyalakan petasan, nggak bunyi.ย  Semua masalah teratasi ketika saya mulai mengikuti salah satu mentoring menulis online, yang saya dapat infonya FB. Karena masih kurang percaya, saya hanya mentransfer separuhnya dulu. Kalaupun ternyata metodenya nggak cocok buat saya, tinggal cabut saja.
Selama 30 hari dipandu oleh salah seorang mentor berpengalaman dan sudah membuat 20 buku. Tiap hari harus mengirimkan 4 lembar tulisan dikirim via email dengan batas waktu pukul 23.59. Lebih dari itu, nggak dapat nilai. Setiap minggu nilai direkap. Tentu saja yang malas akan mendapat nilai rendah. Apalagi yang nggak kirim tulisan selama 3 hari berturut, langsung dapat Surat Peringatan. Dan dikeluarkan dari grup WA. Oya, saat saya mengikuti kelas ini terdiri dari 21 murid. Semua bersaing untuk meraih nilai tertinggi. Selain tugas harian, ada juga tugas mingguan dan kuis dadakan yang bisa menambah nilai. Dan yang meraih nilai tertinggi adalah seorang penulis komik Real Masjid. Yaitu saya sendiri. *uhuuukkkk.

Saya kagum dengan novel-novel karya Tere Liye. Selain beliau produktif bisa menerbitkan novel setahun 4 kali dan best seller semua, disetiap novelnya belum pernah saya temui ada tokohnya sedang merokok, atau adegan yang menjurus ke arah maksiat atau paragraf yang menggambarkan aurat wanita secara porno. Awalnya saya paling malas baca buku tebal. Namun akhirnya, saya adalah pelahap ulung novel-novel beliau. Kenapa? Dengan mengkonsumsi buku-buku bagus, otomatis nanti yang akan kita tulis jadi bagus juga.
Walau saya telah menulis 5 komik, bukanlah garansi saya bakal rajin menulis blog, cerpen ataupun novel. Nggak jaminan!
Namun setelah saya โ€œlulusโ€ mengikuti kelas tadi, saya mempunyai kebiasaan baru yang menyenangkan : mudah menulis dan gampang cari ide. Sebulan setelah kelas berlalu, timbul penyakit lama : malas menulis. Mungkin akibat sudah tidak ada mentor yang membimbing dan suasana persaingan antar peserta, jadinya ogah-ogahan.
Akhirnya pada suatu malam saya mendapatkan BC di WA, ada sebuah komunitas bernama Keluarga Kamis Menulis. Saya coba datang. Sekali dua sepertinya menyenangkan. Bagi saya cukup memotivasi untuk menulis kembali, walaupun pertemuan seminggu sekali. Tapi, ternyata komunitas tersebut adalah memberikan jawaban selama ini yang saya cari : komunitas.
Berkumpul dengan pedagang minyak wangi, kita akan ketularan wangi. Tiap hari bergaul dengan pencopet, ya bersiap saja mata selalu melotot jika lihat dompet. Cara terbaik agar mood menulis selalu terjaga, ikut komunitas menulis. Begitu pula di sosial media, follow saja yang ada hubungannya dengan menulis. Supaya api menulis tetap menyala. Bahkan saya punya moto : ORA NULIS ORA MANGAN. Kalau nggak menulis, anak istri saya tidak bisa makan. Jadi, saya selalu semangat. Tapi mungkin moto itu kurang cocok buat rekan wartawan yang tiap hari sudah pasti menulis. Sering nulis = sering makan. Gemuk deh! Haaaaa….