Saya pernah ke Kaliurang tahun 1987. Tidak ada perbandingan yang mencolok dalam hal obyek wisatanya jika dibandingkan dengan zaman now. Masih itu-itu saja. Air terjun kecil, pedagang-pedagang salak, jadah tempe, wajik… Semua masih sama. Dulu ada kolam renang di Tlogo Putri yang tidak terlalu bening. Kini tinggal kolamnya saja, tanpa air yang super dingin.

Foto dari google

Untuk para turis lokal menggunakan mobil pribadi atau bis telolet yang berisi wisata pelajar dari berbagai penjuru kota luar Jogja, Kaliurang masih menjadi tujuan favorit selain candi, pantai dan keraton.

Foto dari google

Now, saya sebagai penduduk ber-KTP desa Purwodadi Pakem (Kaliurang) berangan-angan, ingin mengembangkan wisata Kaliurang agar terlihat lebih lebih keren dan banyak variasi dari sebelumnya. 3 orang teman saya yang berduit banyak (baca : investor) saya mintakan pendapat,apakah mereka bersedia seandainya harus menanamkan investasi bikin wisata baru di Kaliurang. Misalnya bikin waterpark. Mereka sepakat menolak, karena menurutnya uang mereka bisa lenyap seketika karena gunung Merapi masih selalu mengintai dengan ancaman yang sangat serius. Walau ada teori yang menyebutkan bahwa gunung Merapi baru akan meletus lagi ratusan tahun kemudian, juga tidak membuat mereka para investor berubah pikiran. Mendingan cari aman untuk tidak berinvestasi.

Saya pernah mengontak jasa bikin waterpark, menurut info di sekitar kampus UII (sekitar jalan Kaliurang KM 14) sudah ada pengembang yang akan membangun waterpark super besar. Namun hingga kini belum ada realisasinya. Baru ukur-ukur tanah doang.

Hingga pada suatu akhir tahun 2015, saya dikejutkan oleh ide yang sangat cemerlang dan belum pernah terpikirkan sebelumnya:

Dengan promo yang lumayan besar-besaran, salah satu EO dari Jogja ini menyulap lahan Gardu Pandang (salah satu obyek wisata di Kaliurang) menjadi taman lampu yang menakjubkan. Lahan yang tadinya sekedar rumput, tanah miring, dan tempat parkir, berubah total menjadi primadona obyek wisata malam hari yang mampu menyedot pengunjung lebih dari 70.000 disaat liburan akhir tahun.

Antri tiket F.O.L.

EO bekerja sama dengan dinas pariwisata Sleman, sukses meningkatkan omset tiket wisata malam Kaliurang. Karena biasanya Kaliurang wisatanya hanya hidup sampai sore. Malam tidak terlalu signifikan.

Foto dari google

Sekedar catatan, jumlah tiket yang terjual selama liburan akhir tahun dari pagi hingga sore (wisata siang), sebanyak 60.000 tiket. Setiap tahun hampir sama. Sedangkan wisata malam boleh dibilang adem ayem saja, karena wisata malam Kaliurang kurang  greget daya tariknya. Namun setelah adanya Festival Of Light itu, jumlah tiket wisata malam lebih unggul 10.000 tiket dari wisata siang yakni 70.000 tiket. Sebuah angka yang sangat fantastis. Karena jika digabungkan, total tiket mencapai 130.000! Dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal ini juga dirasakan oleh beberapa pedagang yang jualan di area Taman Lampion. Hampir setiap hari buka jam 17.00 dagangannya ludes sebelum acara ditutup jam 23.00. Terlebih ketika tahun baru, Festival Of Light merupakan target pengunjung untuk melakukan hajat pergantian tahun.

Menariknya lagi, kepala daerah Madiun dan Wonogiri telah mengontak EO tersebut untuk menyelenggarakan hal serupa di daerahnya. Siapa yang tidak ingin ketularan sukses dan ramai! Hanya tinggal memindahkan perangkat yang berbudget produksi hampir 2 milyar dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena dengan rata-rata tiap hari 5.000 orang pengunjung dan tiket masuk Rp. 15.000 untuk hari biasa, dan Rp. 20.000 untuk tanggal merah dan akhir pekan, sudah dipastikan tidak sampai satu bulan modal sudah kembali. Belum lagi pemasukan dari lapak kuliner. Menggiurkan bukan? Cukup ciptakan tempat wisata knock down, yang mudah dibongkar pasang, maka tempat yang tadinya sepi dijamin jadi meriah.

“Tradisi” berlanjut 2016.

Hingga 2017 dengan tambahan Dancing Fointain.

Video dari youtube.

Festival Of Light ini hadir hanya di saat liburan saja, karena mengingat biaya operasioanl yang besar. Akan merugi jika diadakan bulan sepi pengunjung. Toh perangkatnya bisa dibongkar pasang. Coba periksa tempatmu, apakah layak Festival Of Light-able? Tidak harus gedean. Kecil-kecilan dulu aja.

@tonytrax_