Saya boleh dibilang fans kereta api garis keras hehehe… Saking seringnya naik. Selain harganya lebih murah dari pesawat, akhir-akhir ini saya , merasa nyaman berkendara dengan kereta. Tujuan yang paling sering adalah Jogja – Bandung dan Jogja – Jakarta.

Berangkat!

Sepanjang tahun 2016 hingga 2017 ini, saya merasakan adanya perubahan yang melejit dalam hal pelayanan dan tampilan. Sempat kaget dengan announce di kereta bahwa jika ada yang ketahuan merokok, maka akan diturunkan di stasiun berikutnya. Biasanya untuk gertakan soal merokok ini hanya sebatas sambal saja. Alias nggak sungguh-sungguh. Kita lihat saja di beberapa tempat umum, banyak larangan merokok namun ketika ada yang membangkang, hanya didiamkan saja.

Namun untuk KAI, tampaknya tidak main-main. Berungkali saya baca di portal berita nasional, petugas dengan tegas menurunkan penumpang yang kedapatan merokok. Bahkan penumpang itu sedang bersama istri dan anaknya. KEREN! Ini sungguh keren! Salut untuk ketegasannya.

Saya adalah penulis 6 seri komik Real Masjid, yang segmentasinya untuk anak dan remaja. Di dalam setiap tulisan saya selalu saya sisipkan tentang bahaya merokok dengan berbagai gaya.

Real Masjid – Merokok Di Angkot

Nah, komik yang terbaru nanti, sudah saya masukkan tentang seorang penumpang yang diturunkan karena merokok di toilet kereta. Terinspirasi dari ketegasan KAI. Di samping itu, saya ingin sekali saat naik kereta bisa memergoki langsung penumpang yang ketangkap basah merokok. Biar greget aja hahaha…

Bersih tak tersisa sampah sedikitpun. TOP!

Dalam hal pelayanan, sudah semakin membaik. Petugas yang ramah, cleaning servis yang sigap membersihkan, semakin mudah mendapatkan tiket, pembatalan tiket dengan sistem pengembalian uang sebulan kemudian bisa transfer atau cash (saya pernah mengalami ini), dan sudah tidak ada lagi penumpang gelap yang nggak punya tiket lalu hanya bayar separo langsung ke kondekturnya. Karena awal tahun 2000 saya termasuk penumpang yang sering melakukan transaksi haram tersebut hihihi… Ini juga sudah saya masukan ke komik saya.

Jika tertangkap tangan tanpa tiket, siap-siap kerja bakti membersihkan toilet!

 

Pengalaman naik kereta dari awal tahun 2000-an hingga sekarang, segala kelemahan-kelemahannya sudah terselesaikan dengan baik. Pernah naik kereta ekonomi yang full sumuk non AC, pengap, panas, susah tidur. Tapi saat bisa mulai tidur, tiba-tiba terbangun ketika ada pengamen bersuara cempreng sudah ada di depan kita. Saat itu, jika kereta berhenti di sebuah stasiun, pedagang dan pengamen bebas masuk.

Namun. suasana seperti ini yang saya suka hanya satu, ketika pedagang asongan masih bisa masuk ke kereta, saya bisa beli makanan khas setempat tanpa harus turun. Pecel Cirebon misalnya, enak banget. Atau sale pisang yang gurih. Nah, ini bisa jadi ide. Barangkali untuk saat ini bisa diwujudkan membeli makanan khas di daerah yang jadi tempat perhentian kereta. Bisa dengan cara order via online misal 1 jam sebelum nyampe kota tujuan, penumpang bisa order pecel dan sale pisang di Cirebon. Atau bisa order telor asin ketika istirahat di Tegal, lumpia Semarang, gudeg Jogja, dan lain sebagainya. KAI memfasiltasi ini tentu dengan harga yang sudah disesuaikan dengan harga  kereta. saya yakin, dengan bekerjasama dengan pedagang setempat, tentunya yang kualitas yang bagus, pasti sama-sama menguntungkan. (semacam go-food di kereta)

Ini juga bisa untuk menutupi kelemahan dari sisi rasa makanan yang disajikan restorasi. Menu makanan yang ada, terutama nasi goreng, menurut saya kurang nikmat rasanya. Bumbunya kurang nendang. Terasa hambar. Mungkin karena bikinnya bukan fresh ya? Menu yang rasanya enak adalah yang dari D’Cost yang cumi/seafood. Tapi kayaknya udah nggak ada lagi ya?

Semoga suatu saat komik Real Masjid bisa jadi bacaan wajib di setiap perjalanan hehehe…

Lalu untuk musholla perlu disediakan tempat yang lebih luas, bukan cuma seukuran satu orang. Dan disediakan kompas arah kiblat agar setidaknya orang bisa tahu arah yang mendekati kiblat. Kelemahannya musholla kecil, kita tidak bisa menghadap sesuai arah dan tidak bisa berjamaah minimal 2 orang. Dan diberi tulisan DILARANG TIDUR DI MUSHOLLA. Kalopun dipake tidur, harus pake alas, agar alas sholat tidak bau keringat.

Sesekali perlu diadakan kuis berhadiah, misal lomba foto selfie, atau tulisan singkat tentang kesan-kesan naik kereta, lalu diposting sosial media. Ada baiknya diadakan saat hari-hari yang penumpangnya sedikit, untuk mendongkrak penjualan tiket. Atau penumpang bisa diajak jadi detektif, seandainya ada sampah berserakan dan petugas tidak membersihkan, atau kedapatan petugas berbuat tidak jujur, selimut dan bantal ternyata belum dicuci bau iler, hihihi….

Bisa juga bikin kuis interaksi live di twitter yang timeline nya bisa nongol di TV kereta/KATV. Sesekali saja ditampilkan, di sela-sela pemutaran film. Misal kuis: berapa jumlah stasiun yang dilewati kereta? Apa nama stasiun yang barusan berhenti? Atau berapa kali kereta berhenti? Sebutkan 3 nama petugas restorasi? Boleh juga antar penumpang menampilkan iklan jualan dagangannya. Semua dengan melibatkan peran aktif penumpang untuk kemajuan kereta yang yang mulai “bernyawa!” Kereta yang siap membuat perubahan yang lebih baik. Kereta yang peka terhadap sedala kekurangannya. Kereta selalu siap melayani masyarakat.

Kegiatan yang patut diacungi jempol!

Saya pernah mendapatkan BC kuisioner tentang akan adanya kereta jurusan Jogja – Semarang. Karena saya juga sering bepergian ke kota ini, tentu saja ini merupakan berita yang sangat menggembirakan. Segera saja saya isi kuisioner itu dan saya sebarkan sebanyak-banyaknya ke teman-teman. Jika sedang ingin mencari inspirasi, saya butuh perjalanan yang pendek. Seperti trip Jogja – Solo atau Jogja – Semarang. Namun pilihan Jogja – Semarang pasti lebih menyenangkan, karena wisata di kota ini lebih banyak pilihannya. Selama ini saya lakukan dengan naik bis. Semoga bisa terwujud dengan naik kereta.

 

Jogjakarta, 25 September 2017

@tonytrax_